Bandar Sbobet Online Djoko Susilo yang Pernah ‘Menyentil’ PSSI Itu Tutup Usia

Bandar Sbobet Online Beritabola.com Jakarta – Mantan Dubes untuk Swiss Djoko Susilo tutup usia karena serangan jantung. Almarhum dikenal sebagai sosok yang berani takj hanya menyentil tapi bahkan menampar dengan keras PSSI.

Djoko meninggal dunia siang ini, Selasa (26/1/2016) siang, di usia 54 tahun. Pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah itu masih menjabat sebagai anggota tim transisi bentukan Kemenpora sebelum meninggal dunia.

Keterikatan Djoko dengan sepakbola memang bukan tiba-tiba. Dia dikenal sebagai sosok yang amat vokal menyuarakan sepakbola Indonesia bersih dari mafia dan korupsi.

“Saya sudah lama prihatin dengan persoalan PSSI, bahkan sejak saya berada di Bern, Swiss. Sejak terjadi ontran-ontran pada PSSI 2011 saya sudah melibatkan diri untuk mengurus persoalan itu dengan harapan setelah gegeran 2011 situasi di internal PSSI akan membaik,” kata Djoko di acara Mata Najwa pada 24 Juni 2015 dengan ‘Buka-bukaan Sepakbola’.

Keterlibatan Djoko dengan sepakbola Indonesia sudah dimulai jauh sebelum itu. Djoko sudah kerap kali lantang menyuarakan buruknya tata kelola FIFA yang disebutnya bak saudara kandung PSSI. Siapa meniru siapa.

Kritikan tajam dia kepada PSSI tak berhenti. Sebagai mantan wartawan, Djoko menyentil sampai menampar PSSI berulang kali dengan guratan penanya.

Beberapa tulisannya dibagian dimuat di media daerah ataupun nasional yang kemudian bisa mudah ditemukan setelah dibagikan lewat laman Facebook miliknya.

Ambil contoh, dalam tulisannya yang tercatat dalam note di laman Facebooknya berjudul ‘FIFA, Gangster, dan Korupsi’, dia menyebut ada perubahan misi sepakbola di tanah air yang, sayangnya, bergeser kepada hal-hal yang buruk.

“Kerusakan di tubuh PSSI dan organisasi bola atau klub bola mulai terasa ketika bentuk organisasi dari perserikatan berubah menjadi perusahaan dengan alasan demi profesionalitas. Tapi, itu semua hanya kamuflase. PSSI tidak berhasil mengembangkan good corporate governance dan sportivitas dalam sepak bola.”

Dia melanjutkan dengan pendapat bahwa “pengurus PSSI sudah lebih sibuk power play dan tidak melakukan tugas organisasi sebagaimana mestinya. Para bos PSSI ingin seperti bos di FIFA yang tanpa kerja kerasnya menjadikan sepak bola the beautiful game.”

Tak hanya menuliskan pendapatnya, Djoko juga turun tangan langsung. Dia juga menjadi salah satu fasilitator antara Indonesia dengan FIFA saat muncul dualisme PSSI dan KPSI.

Penilaian PSSI juga menghalalkan match fixing juga pernah diungkapkannya. Suara lantangnya itu sampai membuat panas telinga dan diapun dilaporkan ke kepolisian.

Setelah habis semua cara. “Tugas pemerintah melalui Kemenpora adalah menumpas habis mereka semua.” Begitu pesannya.

Sampai kini tugas itu belum tuntas. Djoko sudah menutup usia. Tapi tidak semestinya keinginan Djoko berhenti di siang ini.

Selamat jalan, Pak…
(dtc/fem) Sumber: detiksport


© Copyright Sbobet Casino | Agen SBOBET | Agen Bola | Agen Judi Casino | Agen Judi Bola