Agen Bola : Kesebelasan Para Bapak Bangsa

Hari ini, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-69 tahun. Bukan usia yang pendek, tapi masih jauh untuk disebut tua dan matang.
Untuk udara bebas yang dinikmati hari ini, generasi sekarang berhutang pada nama-nama besar yang pernah memberikan tenaga, waktu, pikiran dan pengorbanannya untuk merealisasikan mimpi-mimpi kemerdekaan. Nama mereka akan abadi dalam ingatan kolektif kita, dan kitalah yang akan ikut mengabadikan mereka lewat kerja dan bakti yang tiada henti.

Guna ikut merayakan kemerdekaan Indonesia ini, redaksi Pandit Football Indonesia mencoba menyusun kesebelasan Indonesia yang diisi oleh nama-nama para pahlawan itu. Bukan pekerjaan mudah, karena ada begitu banyak nama yang layak mendapat tempat, ada begitu banyak pilihan yang patut masuk daftar starting line-up. Tapi sebagaimana “manajer” mana pun yang kadangkala sulit menentukan susunan pemain jika diberkahi pemain-pemain dengan kualitas yang mutunya setara, pilihan toh harus tetap diambil.

Kami membatasi pilihan dengan hanya memasukkan nama-nama yang berkiprah di era modern, tepatnya yang memulai era perjuangan modern (apa yang dalam pelajaran sejarah kerap disebut era pergerakan nasional). Dengan batasan ini, nama-nama yang mengorbankan dirinya untuk menyatakan “TIDAK” pada kolonialisme di abad-abad sebelumnya, seperti Diponegoro, Antasari, dll., tidak masuk daftar ini.

Karena patokan yang dipakai adalah sejak era pergerakan nasional, yang bisa dibilang dimulai di awal abad-20, maka nama-nama pejuang yang muncul belakangan pasca proklamasi juga tidak kami masukkan ke dalam daftar.

Berikut susunan — apa yang kami sebut sebagai — Kesebelasan Para Bapak Bangsa dalam formasi 3-5-2.

Kiper: Raden Mas Tirto Adi Soerjo

Posisi kiper kami serahkan pada sosok yang dalam bentuk fiksi-nya Pramoedya diberi nama Minke ini. Dia bukan hanya generasi awal para nasionalis (lahir pada 1880), tapi juga aktif dalam momen-momen penting pembenihan nasionalisme lewat kiprahnya mendirikan Sarekat Prijaji, Boedi Oetomo dan Sarekat Dagang Islam (SI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam.

Dia pula yang memperkenalkan metode perjuangan lewat pena dan suratkabar dengan menerbitkan Medan Prijaji, surat kabar yang mempraktikkan apa yang di kemudian hari dikenal sebagai “jurnalisme advokasi”. Kiper adalah posisi sunyi, dan Tirto memang mengalami kesunyian dalam masa akhir hidupnya, mati dalam kesendirian, dan nyaris tak akan dikenal dalam sejarah kita andai saja Pramoedya tak menghidupkannya kembali lewat Tetralogi Buru.

Bek Tengah 1: HOS Tjokroaminoto

Tjokro kami tempatkan di posisi bek tengah dari tiga bek tengah di lini pertahanan. Dia penting karena memulai tradisi baru kemunculan pemimpin nasional yang memaksimalkan mimbar sebagai cara perlawanan. Sebelum Sukarno muncul, dialah prototipe pemimpin yang membius dengan orasi, pemimpin yang dianugerahi aura messianik sampai disebut Heru Cokro, Ratu Adil.

(fem/din)

BY.JUDI ONINE TERPERCAYA IONCASINO


© Copyright Sbobet Casino | Agen SBOBET | Agen Bola | Agen Judi Casino | Agen Judi Bola